Saboten Shokudo
REVIEW RESTORAN JEPANG SABOTEN SHOKUDO
Mata Kuliah : Business Creativity
Dosen Pembimbing : Nadiyah Hirfiyana Rosita, SE., MM
Disusun Oleh :
Aprila Riska Dwicesa (165020901111014)
PROGRAM STUDI KEWIRAUSAHAAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
Saboten Shokudo merupakan salah satu resto masakan khas Jepang yang berlokasi di 4 cabang yang tersebar di Kota Malang tepatnya di Jl. Raya Dieng No.18 Malang, Jl. Danau Kerinci Raya C2A9 Malang, Ruko Madonna lantai. 2 & 3 Jl. Sukarno Hatta Ruko. D3 Malang, dan yang terbaru berada di Malang Town Square (MATOS) Jl. Veteran. Resto Saboten menyajikan beragam menu khas Jepang yang disesuaikan sehingga pas dengan mulut orang Indonesia, antara lain seperti Bulgogi, Tori Katsu, Hambagu, Tempura, Chicken Katsu, Gyudon, Sushi dsb. Beragam menu sajian yang ditawarkan Resto Saboten Shokudo terbilang cukup murah, untuk menu utama dikenakan biaya sekitar Rp.5000 hingga Rp.35.000 dan Rp.2000 hingga Rp.10.000 untuk minuman. Bukan hanya itu, Saboten Shokudo juga menawarkan berbagai menu paketan yang dimulai dari harga Rp.11.000 sampai dengan Rp.32.000.
Saboten Shokudo Malang yang buka setiap harinya mulai pukul 12.00 – 22.00 WIB. Namun untuk hari sabtu dan minggu, Saboten Shokudo buka mulai pukul 13.00-22.00 WIB untuk hari sabtu dan pukul 12.00 – 23.00 WIB untuk hari Minggu. Resto Saboten Shokudo juga menawarkan event & promo “All Varian Sushi” yang dibuka setiap harinya mulai dari pukul 16.00 – 22.00 WIB. Di Resto ini juga memfasilitaskan para pengunjung dengan free Wi-Fi yang membuat pengunjung semakin santai dan nyaman. Saboten Shokudo juga menyediakan jasa delivery service khusus daerah Kota Malang.
SEJARAH SABOTEN SHOKUDO
Saboten Shokudo didirikan oleh tiga orang yang bekerja sama dalam bisnis kuliner masakan Jepang, salah satunya adalah Siti Hajma Nia atau biasa dipanggil Nia. Nia merupakan alumni Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya dari tahun 2005 hingga lulus pada tahun 2009. Nia dan kedua temannya memulai usahanya pada tahun 2006 ketika Nia berada pada semester 2. Berawal dari keisengan karena melihat peluang pasar yang dirasanya belum ada restoran Jepang yang menyediakan menu dengan harga yang terjangkau pada akhirnya membawa Nia dan kedua temannya sukses dalam bisnis yang dijalaninya hingga saat ini.
Usaha Nia dan kedua temannya tidaklah mudah untuk berada pada posisi sukses seperti sekarang. Nia dan kedua temannya sempat meminjam uang kepada orangtua dan keluarganya untuk modal usahanya ini. Namun, kedua orangtua dan keluarganya tidak semudah itu memberikan kepercayaan kepada Nia. Usahanya untuk mencari modal berlangsung sekitar 4 sampai 6 bulan untuk mendapatkan modal hingga akhirnya orangtua dan keluarga memberikan pinjaman modal, dan pinjaman modal yang diberikan pun tidak sebanyak yang diharapkan. Dengan modal yang seadanya, Nia dan kedua temannya mulai membeli kursi, meja, peralatan masak bekas yang masih layak untuk perabotan restorannya. Akibat dari usaha yang dijalinya membuat Nia tidak bisa fokus untuk mengikuti kegiatan organisasi kampusnya hingga Nia tidak memiliki pengalaman dalam berorganisasi.
Halangan berbisnis yang dirasakan tidak hanya sampai itu saja. Setelah berhasil mendirikan restoran pertama yang berada di Jl. Jakarta, Nia dan kedua temannya hanya memperoleh penghasilan awal hanya sekitar Rp.200.000,-. hal ini disebabkan oleh susahnya mengedukasi ke konsumen tentang produk masakan Jepang yang dijualnya. Konsumen memandang masakan Jepang adalah makanan yang berbahan mentah dan mahal. Dengan keterbatasan media untuk memasarkan dan mengenalkan produknya pada masyarakat pada saat itu, Nia dan kedua temannya mulai meemperkenalkan produknya melalui Radio, Spanduk, dan Koran. Konsep yang diangkat pada restoran ini adalah halal, harga terjangkau dan rasa masakan yang menyesuaikan selera masyarakat Indonesia dan Malang khususnya sehingga akhirnya membuat respon masyarakat diterima baik.
Nia sering mengalami permasalahan di dalam restoran berupa konflik dengan SDM seperti karyawan dikarenakan usia Nia yang masih muda dianggap belum berhak untuk “memerintah” padahal posisi Nia memang mengharuskan untuk “mengarahkan” para karyawan akan tugasnya masing-masing demi kelancaran operasional restoran. Nia memiliki solusi dari masalah tersebut, yaitu dengan memberikan job discription yang jelas kepada calon karyawannya sehingga para karyawan akan mengerjakan pekerjaan sesuai dengan tugasnya. Nia dan kedua temannya memiliki kesepakatan untuk membagi tugas-tugas mengenai operasional restoran sehingga dengan adanya pembagian tugas, operasional restoran berjalan dengan lancar. Nia mendapat tugas untuk mengontrol seluruh restoran. Dengan kesepakatan ini maka tidak akan terjadi kesalapahaman antara para pemilik restoran dengan karyawan.
Untuk menjaga kualitas dari rasa dan kualitas masakannya, Nia selalu memastikan bahan dari beberapa supplier pilihannya langsung di kirimkan pada pusat logistic. Di dalam tempat pusat logistic ini terdapat karyawan yang bertugas untuk mengontrol kualitas bahan yang di kirim dari supplier, setelah kualitasnya dipastikan maka bahan bahan tersebut di tempatkan pada plastik sesuai porsinya. Setelah itu barulah bahan-bahan berupa bumbu tersebut di distribusikan ke restoran-restoran saboten shokudo. Nia dan kedua temannya telah membuka kemitraan dan franchise kepada siapa saja yang berminat. Saboten Shoduko sudah membuka cabang di Kalimantan tepatnya di Kota Tarakan, franchisor tersebut tidak lain merupakan pelanggan dari Saboten Shokudo yang menyukai rasa masakan restoran Saboten Shokudo. Pada akhirnya usaha kuliner yang dijalani Nia dan kedua temannya telah berjalan sukses selama sembilan tahun lamanya.
Nia berpesan kepada para calon pengusaha khususnya bidang kuliner untuk selalu menambah ilmu dan wawasan tentang berbisnis dan menerapkan prinsip untuk produk yang akan dijual, yaitu “jadilah yang pertama, jika bukan yang pertama maka jadilah yang terbaik, jika bukan keduanya maka jadilah yang beda”. Lalu dalam berbisnis sesuaikanlah keinginan masyarakat dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan survei lebih mendetail tentang apa yang menjadi kompunen dalam bidang usaha yang akan dipilih.
Sumber: Siti Hajma Nia (owner Saboten Shokudo).


Komentar
Posting Komentar